The Foxes Lanjutkan Tren Positif Di Liga Champions

Rabu, 28 September 2016 dini hari tadi menjadi pertandingan tren positif karena Leicester City jawara Premier League ini mampu memenangkan pertandingan melawan FC Porto yang datang bertanding ke stadium King Power. Goal tunggal ini dicetakan oleh Islam Slimani sekaligus menjadi pahlawan pertandingan membawa The Foxes lolos dari hasil seimbang. Ada sebuah fakta unik yaitu Slimani memperoleh julukan pembantai naga, saat masih bermain untuk Sporting Lisbon, karena selalu mencetak gol dalam setiap bertanding dengan Porto pada kompetisi Liga Portugal.

The Foxes Lanjutkan Tren Positif Di Liga Champions

Islam Slimani membuktikan kemampuannya dihadapan banyak pasang mata bahwa dirinya merupakan transfer pemain yang bernilai tinggi setelah didatangkan oleh Claudio Ranieri pada bursa transfer pemain. Tidak lupa, FC Porto juga sempat memberikan banyak ancaman di menit-menit awal pertandingan. Andre Silva pemain depan Porto ini dengan hebat mampu mengancam gawang Leicester City dan seringkali melewati garis pertahanan Leicester, tidak heran apabila Claudio Ranieri sempat menginginkan Andre Silva namun usahanya gagal karena penawarannya ditolak.

Kasper Schmeichel benar-benar bekerja ekstra karena serangan dari pemain Porto ini benar-benar membuatnya kewalahan dan menguras habis staminanya. Goal pertama pertandingan baru tercipta pada menit ke-25, Islam Slimani yang mendapatkan umpan dari Riyad Mahrez ini mampu mencetakan goal ke seorang penjaga gawang ternama Iker Casillas yang bergabung ke Porto dari Real Madrid.

Goal dari Islam Slimani ini benar-benar menjadi motivasi lebih meski hingga babak pertama usai juga tidak ada goal tambahan yang tercetak dari kedua kubu. Dimulainya babak kedua, The Foxes yang berniat menambah keunggulan ini bermain dengan strategi umpan panjang dan serangan balik yang cepat, begitu juga dengan Porto yang berusaha untuk menyamakan kedudukan terlebih dahulu. Porto berkali-kali berusaha mengancam gawang Schmeichel, namun serangan yang mereka lakukan selalu kurang akurat dalam penyelesaian, sehingga tidak ada yang bisa menjadi gol.

Sebaliknya, Leicester pun tak terlihat berusaha keras menciptakan gol kedua, bahkan lebih banyak bertahan terutama jelang akhir babak kedua. Hingga wasit meniup peluit tanda pertandingan usai, skor 1-0 tetap bertahan dan kemenangan untuk tim tuan rumah.