Ruud Gullit Kandaskan Mimpi Maradona

AC Milan dan Napoli sebenarnya bukanlah rival langsung di Liga Italia Serie A. Maklum, kedua tim ini jarang berhadapan secara langsung dalam perebutan titel juara Serie A alias yang biasa kita kenal dengan scudetto.

Rivalitas biasanya hanya terjadi di antara pendukung masing-masing tim. Kali ini momen bagi kedua tim itu bersaing sengit, yakni pada musim 1987-1988 ketika AC Milan dan Napoli diperkuat oleh pemain-pemain kelas wahid. AC Milan kala itu sedang diperkuat oleh duet penyerang legendaris Belanda, Ruud Gullit dan Marco van Basten, sementara beberapa pemain asli Italia seperti Franco Baresi, Roberto Donadoni, Carlo Ancelotti, dan Paolo Maldini.

Sementara Napoli kala itu diperkuat oleh pesepak bola terbaik dunia saat itu, Diego Maradona, ditambah dengan penyerang tajam dari Brasil, Antonio de Oliveira Filho. Walaupun punya materi pemain yang lebih mentereng, laju Milan di musim itu tersendat-sendat. Sebaliknya, Napoli sudah melesat sedari awal dan menguasai puncak klasemen semenjak pekan kedua.

Persaingan dalam memperbutkan Scudetto semakin ketat menjelang akhir musim, tepatnya pekan ke-27. AC Milan bisa memanfaatkan kegagalan Napoli secara maksimal dengan memetik poin penuh atas Verona dengan memenangkan partai Derby della Madonnina kontra rival sekota, Inter Milan.

Tibalah saat saat terakhir yang menjadi penentuan scudetto ketika kedua tim berhadapan pada pekan ke-28. Napoli tampil sebagai tuan rumah yang ditonton secara langsung oleh lebih dari 80.000 pasang mata di Stadion San Paolo.

Diego Maradona yang sempat menjawab beberapa pertanyaan dari awak media sesaat sebelum kick off terlihat bahagia dan sangat optimis bisa mengalahkan AC Milan sekaligus mempertahankan gelar Scudetto. Napoli sendiri merupakan juara di tahun sebelumnya (1986-1987).

ac milan vs napoliKenyataannya ternyata berbanding terbalik dengan apa yang awalnya diperkirakan oleh Maradona. Napoli dipermalukan dengan skor 2-3 sehingga posisi puncak klasemen direbut oleh AC Milan.

Dalam pertandingan itu, AC Milan memang lebih pantas menang karena lebih banyak menciptakan peluang melalui aksi menawan yang ditunjukkan oleh Ruud Gullit. Pemain yang dulu identik dengan rambut gimbal itu memang tidak mencetak gol, namun dia mencetak assist dalam gol kedua dan ketiga I Rossoneri.

Dua assist yang dibuat oleh Gullit masing-masing berupa umpan silang kepada Pietro Paolo Virdis (menit 68) kemudian Van Basten (menit 76). Adapun gol pembuka Il Diavolo Rosso tercipta di babak pertama lewat sontekan jarak dekat Virdis memanfaatkan situasi bola mati.

Sementara itu, Napoli menceploskan dua gol melalui eksekusi tendangan bebas Diego Maradona (menit kkee 45) dan tandukan Oliveira Filho (menit ke 78). Selepas gol Oliveira Filho, Napoli sempat berusaha bangkit untuk menyamakan kedudukan di sisa laga.ac milan vs napoli

Sayang, skor 3-2 untuk keunggulan AC Milan tidak berubah hingga wasit meniup peluit akhir. Ruud Gullit bersama dengan rekan-rekan satu timnya bersorak bahagia, sementara Maradona tertunduk lesu berbarengan bersama dengan 10 pemain Napoli lainnya.

AC Milan terus nyaman di puncak klasemen sampai akhir musim walaupun mencetak dua hasil imbang dalam dua pertandingan. Sebab, nasib Napoli lebih parah ketimbang mereka, yaitu menelan kekalahan dua kali berturut-turut sehingga tabungan poin sang rival tidak berubah.