Di Livio, Legenda Juventus Sekaligus Malaikat Penyelamat Fiorentina

Musim 2001/02 bisa dibilang jadi musim terburuk yang pernah dialami oleh Fiorentina. Tim asal kota Firenze ini berada di posisi 17 klasemen akhir Serie A, dan dipastikan terdegradasi ke Serie B di musim berikutnya. Kepergian Francesco Toldo ke Inter Milan dan Rui Costa ke AC Milan di awal musim ternyata membuat La Viola gagal bersaing di Serie A.

Tetapi itu bukan satu-satunya bencana yang dialami Fiorentina. Di musim panas 2002, klub yang identik dengan warna ungu ini pun pernah dinyatakan bangkrut. Fiorentina harus turun ke Serie C2 dan mengawali musim berikutnya dengan memakai nama baru, Florentia Viola.

Semua pemain yang memperkuat Fiorentina di musim 2001/02 berstatus free agent, dengan kata lain pemain bebas pindah ke klub lain manapun. Bermain di Serie C2 tentu menjadi sebuah bencana untuk pemain-pemain yang sebelumnya berlaga di Serie A, dan benar saja, semua pemain akhirnya pergi meninggalkan Fiorentina. Kecuali satu pemain, Angelo Di Livio.

Di Livio, yang meraih gelar Liga Champions bersama Juventus 6 tahun sebelumnya, tetap setia berjuang bersama Fiorentina berkelana di kasta ke empat sepakbola Italia. Memang saat itu Di Livio sudah berusia 36 tahun, namun bukan berarti tidak ada tawaran yang datang kepadanya. Franco Baresi yang saat itu menjadi direktur olahraga di Fulham, berusaha memboyong Di Livio ke Inggris.

Dengan tawaran-tawaran yang datang, Di Livio dengan tegas menolak, “Saya memutuskan untuk tetap di sini dan membantu Fiorentina kembali ke Serie A.” tegas Angelo Di Livio.

Masuk Dalam Daftar 50 Pemain Legenda Juventus
Angelo Di Livio
Angelo Di Livio sebenarnya adalah seorang pemain legenda Juventus. Dia mengawali karirnya di klub kota kelahirannya, AS Roma. Tetapi selama semusim membela kesebelasan ibukota, Di Livio tidak mendapat kesempatan bermain sama sekali. Namanya baru benar-benar berkibar usai memperkuat Juventus pada musim 1993 hingga 1999.

Bersama Il Bianconeri, Di Livio sukses memenangkan 9 gelar, termasuk Liga Champions 1996, UEFA Super Cup 1996, serta Intercontinental Cup di tahun yang sama. Di Livio yang berposisi sebagai gelandang bertahan menjadi salah satu pemain kunci Juventus di era 90an.

Ketika Juventus Stadium mulai dipakai pada 8 September 2011, nama Di Livio masuk dalam 50 pemain terbaik Juventus sepanjang masa bersama dengan Giampiero Boniperti, Gaetano Scirea, serta Michel Platini. Padahal gaya bermain Di Livio tidak sebagus Roberto Baggio atau Zinedine Zidane. Namun Di Livio bisa mengimbangi gaya dua rekannya itu dengan assist-assistnya. Terkenal karena karakternya yang ngotot dan pantang menyerah, Di Livio mendapat julukan Soldatino dari Roberto Baggio.

Gaya permainan Di Livio itu ternyata menarik hati pelatih-pelatih. Terbukti Di Livio mendapat panggilan untuk memperkuat tim nasional Italia ketika ditangani oleh 4 pelatih yang berbeda, Arrigo Sacchi, Cesare Maldini, Dino Zoff dan Giovanni Trappatoni. DI musim panas 1999, Di Livio hengkang dari Juventus dan kemudian bergabung dengan kesebelasan rival, Fiorentina.

Ditolak Sekaligus Dipuja Suporter Fiorentina
Di Livio

Fiorentina dan juga para suporternya memang dikenal sangat membenci Juve. Kebencian Fiorentina memuncak ketika La Vecchia Signora merekrut pemain kesayangan mereka, Roberto Baggio, jelar bergulirnya Piala Dunia 1990. Hal ini ternyata berimbas kepada Di Livio. Usai 3 bulan pertama tampil kurang oke bersama Fiorentina, Di Livio dipaksa membuat sumpah di depan para suporter Fiorentina.

“Saat ini Juventus adalah musuh terbesar, mereka tidak peduli lagi dengan saya, mencampakkan saya, padahal saya punya perjanjian dengan Juventus untuk memperpanjang kontrak, tetapi akhirnya mereka malah mengusir saya.” ujar Di Livio saat itu.

Pada akhirnya, Di Livio akhirnya membuktikan bahwa dia memang sangat setia kepada Fiorentina. Di saat satu per satu pemain angkat kaki dari Stadion Artemio Franchi, Di Livio yang saat itu memangku jabatan kapten memilih untuk berjuang bersama La Viola.

Semusim di serie C2, Florentina berhasil promosi ke Serie B. Di Livio yang waktu itu sudah berusia 37 tahun mengungkapkan keinginan terakhirnya sebelum pensiun, “Bermain kembali di serie A bersama dengan Fiorentina walaupun hanya satu pertandingan, akan menjadi cara yang luar biasa untuk menutup karir saya.”

Di Livio gantung sepatu di akhir musim 2004/2005. Tepat seperti yang diinginkan, Di Livio mengakhiri karir dengan kostum Fiorentina di Serie A. Dan bukan cuma 1 pertandingan, dia melakoni 12 pertandingan di musim tersebut dan berhasil mengantarkan Fiorentina bertahan di Serie A.

Kesetiaan Angelo Di Livio memang layak dicontoh oleh setiap pemain. Walaupun dia menjadi salah satu pemain legenda di Juventus, namun kesetiaan membuatnya menjadi malaikat penyelamat di Fiorentina. Kebencian Fiorentina kepada sepertinya memang sudah tidak terbantahkan lagi, setiap pemain yang pindah langsung dari Juve ke Fio dipaksa untuk melakukan sumpah setia.